8.8.11

Iblis di Bulan Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim

Marhaban ya Ramadhan....

Sudah beberapa hari ini Ramadhan kembali menyapa dan memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Kehangatan dan kemesraannya dalam memanjakan batin orang yang beriman tak ada batasnya. Dan kami, selalu menyambutnya dengan segenap kegembiran dan keharuan. Marhaban ya Ramadhan....

Sesuai dengan janji Allah SWT, Sebagaimana dalam dua kitab shahih, Bukhari, no. 1898, Muslim, no. 1079, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda. “Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”. Sehingga yang ada hanya rahmat Allah untuk hamba-hambaNya.

Lalu apa yang terjadi dengan Iblis berikut staf-stafnya? Apa yang mereka lakukan didalam pasungan? Sangat sulit diketahui apa yang terjadi pada mereka. Namun berdasarkan informasi dari narasumber yang tidak tidak mau disebutkan identitasnya, ternyata Iblis beserta staf-stafnya, kita akrab menyebutnya dengan setan, sedang mengadakan Sidang Sangat Darurat Luar Biasa Sekali. Dalam sidang tersebut Azaziel, nama lain dari Raja Iblis, mengadakan dengar pendapat sekaligus mengevaluasi program kerja periblisan sekaligus berusaha menelurkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif dalam urusan penyesatan Bani Adam. Namun sebagian besar staf Iblis banyak mengeluhkan turunnya rahmat Allah di bulan Ramadhan yang mubarokah ini.

“Omset penyesatan kami menurun drastis, Yang Mulya”, iblis Hafaf, ketua Departemen Khamer, memulai keluh kesahnya dan dilanjutkan oleh iblis-iblis yang lain.

Abu Murrah manggut-manggut sambil membelai jenggotnya yang cuma berjumlah tujuh helai. Dia tampak mengerti kegundahan sebagian besar bawahannya.

“Hmmm, aku mengerti permasalahan yang kalian hadapi tapi sekarang bukan saat yang tepat berkeluh kesah, kita harus mencari rumusan yang tepat untuk mengembalikan omset penyesatan kita setelah Ramadhan”. Azaziel, King of Demon, mencoba menenangkan kegundahan bawahannya.

Dari semua Ketua Departemen Periblisan yang hadir dan tampak gelisah, hanya Zailatun, iblis yang membawahi Departemen Kecurangan Perdagangan dan Riba, dan Laqwas, ketua Departemen Kemusyrikan dan Kekafiran, tampak tenang dan penuh percaya diri sehingga menarik perhatian Abu Murrah.

“Laqwas, Zailatun, aku perhatiakan, dari tadi kalian tampak tenang-tenang saja tidak seperti rekan sejawat kalian. Tampaknya kalian sedang menyimpan sesuatu. Kalian tidak ingin memanfaatkan situasi ini untuk menggoyang kedudukanku, kan?”, tukas Abu Murrah penuh selidik.

Mendapat “serangan” mendadak, tidak urung kedua iblis itu keder juga, tapi Laqwas segera tanggap. “Maafkan kami Paduka Yang Mulia Azaziel yang dilaknat Allah, telah tertulis dipena takdir bahwa kedudukan paduka tak tergoyahkan sampai akhir dunia. Adalah kebodohan yang terencana kalau kami bermaksud begitu, itu hanya terjadi di dunia Bani Adam, Yang Mulia”, Laqwas segera menetralisir suasana.

“Hmmm... masuk akal juga, lalu apa yang menyebabkan kalian tampak tenang sedangkan kita yang lain disini panik?”

“Sebelum ini terjadi kami sudah menduganya, sehingga jauh-jauh hari tim research kami sudah bergerak melakukan penelitian. Semua kemungkinan kami pertimbangkan, setiap variabel kami hitung, bahkan kemungkinan terburukpun kami sudah siapkan dampak pencegahannya”. Zailatun segera menimpali.

“Lalu?”, Abu Murrah manggut-manggut, mencoba mengerti maksud bawahannya meski dia tak mengerti sama sekali, yang penting “gaya”, pikirnya.

“Dari Market Research yang kami lakukan terhadap habitual dan behavior Bani Adam, kami menarik kesimpulan bahwa program yang kita canangkan dalam konfrensi iblis terakhir tentang Pemanfaatan Godaan Tepat-Guna dalam Menjerumuskan Bani Adam di Sektor Multi Dimensional Sesuai Dengan Kondisi Zaman** ternyata terbukti efektif dan efisien, kita berhasil Paduka, termasuk di bulan Ramadhan ini”.

“Lalu mengapa kita mengalami penurunan omset penyesatan? Ini kerugian yang luar biasa! Hampir di semua sektor Market Share kita”.

“Apa yang Paduka ucapkan benar adanya, tidak ada keraguan sama sekali tapi Ramadhan ini hanya Temporary Potential Loss, sesaat kita memang mengalami kerugian, tapi ketika kondisi ini akan mendekati titik nadir pelan-pelan omset kita akan kembali surplus kami sudah persiapkan segala kemungkinan yang ada”, Zailatun menerangkan dengan kepercayaan diri penuh.

“Lanjutkan”, tukas Abu Murrah.

Zailatun melirik Laqwas, kode untuk menyambung retorikanya. “Setelah mendapat hasil Research dari Saudara Zailatun, saya segera menginstruksikan pada Dinas Teknologi dan Informasi mengambil semua langkah yang dianggap perlu untuk menggali data pada setiap individu Bani Adam. Dengan ARP Spoofing dan teknik Sniffing kami berhasil meletakkan Worm dan SpyWare di hampir setiap individu Bani Adam, Yang Mulya”, Laqwas berhenti sejenak, untuk sekedar mengetahui respon dari bosnya, dia tahu ilmu IT sang bos cuma pas-pasan.

“Lalu dengan semua teknik yang kau terapkan itu data apa yang berhasil kamu dapat?”.

“Hampir semuanya, Yang Mulia. Setiap gerak lahir mereka bisa kami dapatkan datanya. Untuk gerak batin, memang agak susah tapi ini bukan hal yang tidak mungkin. Ini hal yang bisa diamati dan dipelajari berdasarkan habitual dan behavior individu Bani Adam. Dengan test Vulnerabilty kami berhasil mengetahui celah keamanan batin mereka. Cukup dengan menempatkan Trojan melalui celah keamanan batin mereka, kami yakin FireWall mereka dapat kita ambil alih. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan DDos Attacking, seperti halnya MLM, maka hampir semua individu Bani Adam kan menjadi DownLine kita”.

“Saudara Laqwas, ide-ide dan wacana anda sangat briliant dan smart, tapi bisakah disampaikan dalam bahasa yang lebih sederhana dan lugas, agar kami yang hadir disini lebih mudah memahami dan tidak ada kerancuan dalam menerbitkan Juklak dan Juknis nanti?”, iblis Akwan, Ketua Departemen Pemuda dan Pemimpin untuk Kemungkaran dan Kemaksiyatan, mencoba menjembatani kesenjangan opini diantara pejabat teras periblisan.

“E... intinya begini, e... dengan memanfaatkan celah keamanan batin Bani Adam, kami sudah menyebarkan virus hati disetiap individu Bani Adam. Virus ini membuat shortcut, cara kerja virus ini adalah dengan membalik paradigma yang sebenarnya, merubah pola pikir idealis menjadi pola pikir empiris. Shortcut yang dibuat virus ini tidak berhubungan sama sekali dengan apa yang tampak, kitalah yang mengatur kemana shortcut ini akan dialamatkan.....”.

“Maaf menyela saudara Laqwas, bisakah dengan kalimat yang lebih konkrit?”. Iblis Akwan mengulangi permintaannya.

Laqwas, ketua Departemen Kemusyrikan dan Kekafiran itu diam, dia tampak berfikir keras untuk mencari kata-kata yang lebih sederhana. “Dari data yang kami dapat rata-rata di hati Bani Adam memiliki rasa ujub, rasa pencitraan diri, gengsi, dan egosentris. Sifat-sifat ini yang menjadi celah keamanan gerak batin mereka. Dan kita bisa memanfaatkannya untuk menghegemoni mereka tanpa mereka sadari”.

“Ujub lebih halus dari riya’, demikianlah halusnya sehingga susah dikenali oleh kebanyakan individu Bani Adam. Kita pupuk rasa ini sehingga pelan tapi pasti mereka akan merasa lebih baik dari semua orang. Dengan virus ujub ibadah dan kebaikan apapun yang mereka lakukan takkan bernilai apapun, meski tidak sampai terlontar lewat mulut mereka. Virus ini akan membangkitkan pencitraan diri dan gengsi yang berlebihan dan pelan tapi pasti, tanpa mereka sadari mereka akan jatuh dalam kesombongan. Bukankah karena sifat sombong itu yang membuat kita dilaknat Allah dan akhirnya kita terpuruk disini?” Laqwas mengakhiri uraiannya sambil melirik pada Zailatun.

“Baiklah, sisanya akan saya lanjutkan”, Zailatun mengerti maksud Laqwas.

“Kita balik paradigma berpikir mereka, kita rubah dan kita belokkan pola pikir mereka. Dalam marketing kita mengenal Want and Need, keinginan dan kebutuhan. Kita rubah mainset mereka bahwa apa yang mereka inginkan adalah apa yang mereka butuhkan. Sehingga dengan memanfaatkan celah keamanan batin seperti yang diuraikan saudara Laqwas mereka akan terjerumus dalam perlombaan mencari kesenangan dan kepuasan dunia. Kita arahkan pola pikir mereka dengan pola pikir hedonis, belanja demi penampilan dan gengsi, meski mereka sadar tidak punya kemampuan untuk itu, implikasinya mereka akan melakukan segala cara yang penting gaul, penuh gengsi. Pelan tapi pasti mereka akan terjerumus dalam budaya hutang dan itu akan melemahkan kemampuan mereka untuk memahami persoalan agama”, Zailatun menghelapas napas sejenak.

“kemudian, kita ubah pola pikir idealis mereka dengan pola pikir empiris, ini akan menumbuhkan rasa kolektifitas dalam kemungkaran. Asal dilakukan bersama-sama akan terasa wajar dan boleh. Pelan tapi pasti pola pikir relijius mereka akan terkikis habis, sehingga mendangkalkan aqidah mereka akan semudah membalik telapak tangan”.

“Tapi bagaimana kita melakukan itu sedang kita terpasung disini?”, iblis Akwan menukas.

“Itulah gunanya trojan yang telah kita tempatkan disetiap individu Bani Adam, biarkan virus itu yang bekerja, kita tinggalkan menjalankan remote dekstop dari sini. Seperti yang telah saya uraikan diatas, firewall mereka sudah kita kuasai”, ujar Laqwas dengan senyum kemenangan.

“Caranya?’.

“Seperti yang telah ditetapkan dalam konfrensi yang lalu, kita sudah meletakkan remote dekstop disetiap individu Bani Adam. Kita penuhi otak dan angan-angan mereka dengan kemudahan dan kemewahan dunia, kita cekoki mereka dengan iklan, spam, informasi-informasi yang tak berguna tapi mereka menganggapnya kebutuhan, sehingga akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan mereka, keputusan apapun yang mereka ambil bisa dipastikan tidak logis. kita hiasi rumah mereka dengan infotainment sejak subuh sampai menjelang tidur, sehingga yang ada dihati mereka hanya gosip, ghibah, dan fitnah. Itu akan mengurangi kualitas kerja mereka, mereka akan enggan melakukan apapun. Kita panjangkan angan-angan mereka dengan kuis, diskon, hadiah, dan undian yang melimpah dan pelan pelan mereka akan jadi pemalas, pasti akan menurunkan pruduktivitas mereka. Kita tayangkan hiburan yang mengeksploitasi tubuh wanita, kita palingkan perhatian laki-laki pada paha putih mulus, dada montok dan gede, bokong semok yang seksi, wajah halus yang menawan, dan eksplorasi fisik lainnya setiap laki-laki akan beranggapan panampilan fisik adalah yang utama dan menjadi tujuan mereka dan setiap wanita akan berlomba-lomba mempercantik diri dengan jalan apapun. Konsekwensi logisnya, mereka akan lupa bersyukur dan kita tahu orang yang lupa bersyukur itu pasti berjalan kepada kekufuran”, sangat berapi-api Laqwas menguraikan pendapatnya.

“Ya kami paham itu, itu kan program kerja kita yang sudah disepakati. Tapi sekarang Ramadhan, pola pikir mereka mendadak religius, sangat agamis, dan kesadaran batin mereka tiba-tiba meningkat pesat, seolah mereka punya energi yang luar biasa yang membuat kita tak berdaya”, Akwan kembali menyela.

“hehehehe.... justru disini intinya saudara Akwan. Kami sudah mempersiakan segalanya”, Laqwas menyeringai, memamerkan taringnya tapi tetap tak bisa menutupi gigi depannya yang ompong.

“Mendadak mereka religius, tapi tak punya rel. Mereka agamis, tapi beraroma amis. Mereka beramal sholeh tapi sedikit sekali diantara mereka yang mengerjakan dengan ilmu. Amal tanpa ilmu seperti kabut dini hari, akan sirna manakala tersiram lembut hangat mentari”.

“Hmmm, pemikian yang cerdas Laqwas, tapi apa kiat-kiatmu menanggulangi itu?” Abu Murrah akhirnya tak sabar juga ikut berkomentar.

“Daulat tuanku, ini adalah hal bisa diamati dan telah terekam secara detail di data research kami. Jauh sebelum ini terjadi, kami sudah berkoordinasi dengan saudara Wamurah dan Akwan untuk menghasut para artist, insan infotaintment, musisi, dan semua Bani Adam yang bergerak dibidang seni dan hiburan untuk membuat acara yang agamis, tapi berkat trojan yang kami tempatkan pada setiap individu, tak satupun acara yang mereka sajikan bermuatan agamis bahkan, seperti kata saya tadi, berbau amis”, Laqwas menyeringai penuh kebanggaan.

“Wamurah, Akwan, kalian belum melaporkan padaku tentang ini!”, Azaziel menoleh pada dua staf di samping kirinya.

Iblis Wamurah terkesiap tapi sudah siap dengan laporan ditangan, “Maaf yang mulia, sudah kami siapkan laporannya, tinggal dijelaskan saja”.

“Trus tunggu apalagi?” Azaziel menukas cepat.

“Menyambung uraian saudara Laqwas, kami bisikkan dihati mereka untuk memproduksi acara, Film, sinetron, dan lagu religi. Mereka beranggapan apa yang mereka produksi sejalan dengan agama tapi jauh panggang dari api. Sinetron religi yang mereka buat secara kontent justru jauh dari nilai-nilai agama. Film bernuansa agama justru berisi wacana pluralisme dan liberalisme. Lagu religi hanya liriknya yang sedikit menyentuh persoalan agama, tapi lebih dari itu justru bertentangan dengan agama. Yang mulia dapat saksikan bagaimana mereka membawakan lagu dipanggung-panggung dan bagaimana aksi audiennya”. Wamurah berhenti sejenak sambil membalik laporannya. “Namun pekan pertama Ramadhan ini, secara statistik omzet kita menurun, Yang Mulia. Hal ini yang harus kita cari solusi secepatnya”.

‘Hehehehe... usah kau gundah gulana saudara Wamurah, semua sudah diperhitungkan”, Laqwas kembali menyeringai.

“Menurut data statistik, hanya sedikit Bani Adam yang beramal berdasarkan ilmu, dan dari yang berilmu cuma sedikit yang istiqomah. Jadi tenang saja, ini keuntungan yang luar biasa buat kita. Ramadhan memang membawa dampak yang signifikan pada proyek besar kita tapi itu hanya sesaat dan hanya pada minggu pertama saja. Berikutnya, pelan tapi pasti mereka akan kembali pada habitual dan behavior mereka. Pun bagi Bani Adam yang masih bisa menahan nafsu dan syahwatnya pada pekan pertama dan kedua tak berbeda jauh dengan yang lain, karena keinginan yang mereka pendam akan terakumulasi dan menjadi momentum yang dahsyat saat kekuatan batin mereka goyah. Saudara Wamurah masih ingat tentang Trojan dan Ddos Attacking yang saya uraikan didepan, kan?, dengan moment yang tepat kita aktifkan trojan itu dampaknya bisa kita perhitungkan. Mereka mereka akan mengumbar keinginan mereka yang sudah terakumulasi dan menganggap itu sebuah kebutuhan!, kalau sudah begitu...... ”.

Tiba-tiba Laqwas menghentikan uraiannya, suasana hening. Mereka saling berpandangan dan menunggu uraian selanjutnya dan iblis Laqwas, tapi tak ada suara.

“Kenapa tiba-tiba kamu diam Laqwas?”, Abu Murrah penasaran.

“Maaf Paduka Yang Mulia dan saudara-saudara sekalian, rasanya saat ini waktunya Bani Adam berbuka. Biarkan yang membaca kisah ini berbuka dulu....”.

TAMAT

-lee-

Dengan sholawat semua lewat

Note:
* Cerpen ini dibuat dengan cara ngawur dan bahasa yang ngawur juga, mohon pahami dengan cara yang ngawur agar pembaca bisa menangkap esensinya.
* Kisah ini hanya fiksi metafisik, tidak menggambarkan keadaan dan kejadian yang sesungguhnya. Jangan percaya! Karena penulisnya bukan orang jujur!
* Kalo ada nama yang mirip dengan penokohan yang ada dalam cerita ini, percayalah itu bukan anda!
* Terakhir, semoga bermanfaat!

20.1.09

sebuah catatan tepi

(versi komplet)
****
Sebuah catatan tepi

Awal bulan pada tengah tahun, di sebuah catatan yang kumal karena kesia-siaan usia.

Hujan masih menyisakan gerimis ketika kita terpaksa melangkah telusuri jalan setapak. Seperti dulu, lumpur dan ilalang tetap jadi hiasan indah guratan-guratan debu di kaki kita. Ratusan bahkan ribuan jejak telapak kaki kita jadi lukisan panjang di jalan berlumpur yang kita lalui, namun kita belum juga tahu kemana kita menuju. Ke bilikku atau ke rumahmu atau ke istana yang belum sempat kita bangun. Guratan debu di tubuh kita semakin tebal, penat semakin akrab, namun belum juga kau ajak aku tuk singgah sekedar melepas lelah. Haruskah aku berteriak dan menyeretmu ke sebuah lembah agar kita bisa rebah dan menghela desah. Tak dapat lagi ku kamuflase air mata menjadi embun yang menetes di pipi karena hari semakin jauh berlari, atau kupaksakan tersenyum ketika memandang wajah mungilmu karena kau sama terlukanya, seperti aku.

Ah…, ilalang semakin banyak menoreh luka di tubuh kita, ingin sekali ku kecup luka di sekujur tubuhmu dan menanggung semua perih tapi kau tetap angkuh dalam wajah manismu. Aku yakin kau tahu betapa perih lukaku, betapa penat lelahku, betapa kering air mataku, betapa……….. aku tak bisa berkata lagi. Kau belum juga mengerti, senyum yang kau maksud tuk menghiburku adalah sebilah pisau yang mengiris senyumku menjadi tangis. Haruskah aku berkata, telah rapuh tubuh dan hatiku menahan gejolak hasrat yang kian menggunung, bahwa, aku ingin kita bersepakat dan saling mendekap erat di setiap tapak langkah kita dan membangun sebuah istana yang belum sempat kita bangun agar aku dapat membasuh setiap butiran debu yang mengotori tubuhmu.

Kita memang melangkah bersama, tapi kita tak seiring jalan. Kau tetap angkuh dalam pengembaraan dan aku tetap setia dalam penantian panjang…………

***

Catatan ujung malam, awal bulan pada akhir tahun.

Hujan telah berlalu, aroma tanah basah masih setia menjaga lamunanku. Aku merenung bagai gunung mengharap kau tancapkan kokoh tapakmu pada lereng-lerengnya dan bersama kita nikmati sunset di puncak, kau genggam tanganku dan rasakan hangat mentari yang cahayanya berpendar ke relung hatiku. Oh… aku tersadar ketika burung hantu senandungkan kidung rindu saat kelabunya mega selimuti semesta. Langit mulai gelap, ada sejuta harapan disana. Mentari menepi, purnama hangatkan lelah siang tadi menjadi seonggok mimpi. Aku menunggumu nyalakan sebentuk dian tapi kau tetap bersembunyi dalam samar bayangan. Jujur saja, aku mulai kesal atas kepengecutanmu. Aku ingin berteriak dan memaksamu tuk genggam erat tanganku agar kau suluhkan setitik cahaya dalam gelapnya jalan yang akan kita tempuh, tapi aku sepertimu, pengecut. Angin mulai deras berhembus menembus sepenggal harapan yang mulai pupus. Purnama yang tersisa pun enggan berbagi rasa, patah sayapnya dalam kehampaan.
Dingin malam mulai meradang, paksa ranting kering panjatkan dzikir kepasrahan pada nasib, pada keadaan. Gemericik daun dan nyanyian jangkrik iringi do’a sepi yang yang kupanjatkan, tertatih letih merayap diantara bintang-gemintang. Dingin makin menyelinap ke segenap relung hasrat, sementara kau tetap bersenbunyi dalam samar bayangan, entah tersenyum, entah menangis. Entahlah, kita memang aneh. Kau begitu dekat tapi juga begitu jauh. Aku begitu yakin dapat menemanimu dalam setiap langkah tapi tak mampu meyakinkan hatimu bahwa aku mampu. Ingin aku menangis tapi apa yang yang harus kutangisi?, ketidak mampuanku meraih hatimu atau kebodohanku karena terlalu yakin dengan perasaanku, entah. Haruskah aku tersenyum sementara hatiku begitu pilu.

Malam semakin dingin, semakin hening, sehening hati kita yang tak mampu berkata. Kita menggigil, sepertiku, kau kedinginan, aku ingin sebut namamu dan memelukmu erat tapi aku ragu apakah kau mampu mendengar suaraku yang menggema di setiap penjuru semesta, pun angin tak mampu getarkan sebentuk rasa dalam hatimu.
Sudahlah, kini aku cuma berharap malam segera menepi meraih pagi, biarkan waktu terus berlalu dan mengalir seperti air…….. Untukmu, terima kasih atas senyummu, atas segala luka yang kau torehkan, atas segala duka yang kau sematkan, atas segala kenangan yang kau tanam di palung hati, atas setitik arti yang kau guratkan ketika sepi memberi mimpi.

Kini, aku cuma ingin kau tahu bahwa hatiku penuh kasih…

***

Dalam beku darah tertumpah
Menetes aliri segenap langkah
Lantakkan senyum disela desah
Terbang mengawan bersama
Sayap yang patah
Dan lelah……………

***

Akhir sebuah persinggahan, kali pertama matahari terbit pada tahun ini.

Semesta begitu hangat ketika mentari bagikan sinarnya, kala malam telah menepi. Mimpi telah larut bersama kabut pagi, pelan tapi pasti kan mencair menjadi butiran air di ujung daun atau sekedar penyejuk rumput liar di jalan setapak dan kita menginjaknya. Sungguh ironis, kita abaikan setetes air penyejuk demi ego yang bersarang di hati kita. Kalau kau mau meluangkan waktumu sejenak, kau akan mengerti bahwa tanpa kehadiran mereka tak akan pernah ada kehangatan mentari pagi, takkan berarti indahnya mimpi-mimpi.
Kini, aku makin mengerti bahwa selama ini aku bermimpi, cuma mengharap mentari kan memeluk rembulan. Konyol memang, menganalogikan kau adalah matahari dan aku bulan, tapi cuma itu yang dapat menghiburku dan menjadi sedikit supplement bagi dahaga hatiku. Seperti halnya mentari dan rembulan, kita tetap melangkah dalam dunia kita masing-masing, tak mungkin bertemu meski ingin bersatu. Betapapun besar kita berharap tuk saling mendekap erat namun itu cuma perangkap dari dalamnya hasrat, bahwa alam kan kelam ketika mentari dan rembulan menyatu, alam kan gelisah ketika mereka berpisah. Mungkin ini jalan yang harus kita tempuhi, saling menjaga dan menghiasi agar jalan kita tetap asri dan bunga liar tetap berseri.
Terima kasih atas mimpi yang tak sengaja kau sematkan. Mimpi-mimpi tentangmu begitu indah menghiasi hariku, begitu bersahaja menjaga hati dan bertahta disana. Walaupun segala bentuk kesah tak dapat aku hindari tapi nikmati saja dan biarkan mengalir seperti air. Demikianlah kenyataan yang harus ku jalani, menangis pun kini tak berarti, karena sepi dan mimpi telah terbiasa.

Sudahlah, bertemu atau berpisah, kita tetap satu………………………………

***

Akhir catatan tepi.

Hujan Musim kemarau

Tak ingin ku teteskan air mata
Karena tanpa kehadiranmu,
Semakin kenal akan dunia
Dan mengerti bahwa,
Isi semesta cuma satu.
Ketika kau semakin jauh berlari
Kau taburkan segenggam debu,
Itupun suci.
Ketika aku mulai melupakanmu
Kau datang menghunus sebilah belati
Kau tusuk tepat di jantungku,
Kau sayat melukai hati,
Terbelah.
Aku terpaksa meringis,
Agar tak menangis.
Dan kau tersenyum manis,
Menyeka darah, membalut luka.
Dua butir air bening menetes
Menyatu bersama embun.

***

Sebuah pengingkaran

Aku tahu,
Menyimpan dalamnya luka akan menyakitimu
tapi aku lebih tahu,
membuka sayatan luka karena angkuhnya waktu
akan membuatmu jatuh ke dalam dunia yang tak pernah kau tahu

Cuma angin yang mengerti,
Kemana hujan kan menepi.
Dan disini,
Dibawah langit biru sebentuk mimpi tetap setia menanti
Kapan tubuh ini di eksekusi

Kita menyebut jatuhnya butiran air dengan gerimis
Kita tak pernah tahu bahwa itu irama yang begitu ritmis
Seperti kita tak pernah tahu, untuk apa kita menangis
Dengan angkuh kita berkata, agar tampak lebih humanis?

Ingin kupecahkan setiap cermin
Agar kelamnya awan kelabu tak lagi meracuni
Biarlah kita bersolek dengan pantulan nurani
Karena aku yakin itu lebih indah
Dari sejuta panorama yang di tangkap oleh mata
Kini kita tahu,
Mata tak selalu berkata apa adanya
Tak pantas bagi hati mengingkari apa harus terjadi
Untuk itu,
Nikmati saja apa-apa yang tak bisa kita nikmati.
Atau kita layak disebut, bangkai…..

Retorika
Ah…
Apakah ini semacam ketololan
Atau sebentuk ketidakmampuan.
Kita selalu menyalahkan waktu,
Manakala gagal mewarnai hidup.

Air mata yang mengembang kita namakan embun
Lalu darah yang tertumpah di tanah yang basah
Karena dalamnya luka kita sebut apa?
Akankah kita salahkan langit yang menurunkan hujan
Atau bumi yang gagal memeluk jutaan bangkai di perutnya?.

Kita pecahkan cermin itu,
Karena takut melihat bayangan sendiri,
Atau enggan mendengar cerita jujur
Tentang kebusukan luka yang menghiasi sekujur nurani.
Percuma, esok pun terkubur.

Kita terbiasa bermain kata-kata
Dan kita tersesat di dalamnya…

***

powerwd by lee